Loading...

Jumat, 19 November 2010

PERSIAPAN PRE-OPERASI UNTUK PENDERITA


          Keperawatan pre operasi dimulai ketika keputusan tindakan pembedahan di ambil, dan berakhir ketika klien di pindahkan ke kamar operasi. Dalam fase pre operasi ini dilakukan pengkajian pre operasi awal, merencanakan penyuluhan dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan pasien, melibatkan keluarga atau orang terdekat dalam wawancara, memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperasi, mengkaji kebutuhan klien dalam rangka perawatan post operasi.
Persiapan pre operasi yang perlu dilakukan oleh petugas untuk penderita antara lain :
1.      Menerangkan kepada penderita dan keluarganya alasan dilakukan operasi dan memberikan pengertian serta kekuatan mental kepada mereka dalam menghadapi keadaan ini. Diterangkan pula bahwa operasi untuk operasi ini diperlukan izin / persetujuan dari penderita dan keluarganya.
2.      Melakukan pengosongan kandung kencing. Pada operasi perabdominan di pasang kateter menetap.
3.      Mengosongkan isi rectum. Pada placenta previa tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan perdarahan.
4.      Tentukan daerah yang akan dicukur, sebaiknya pencukuran dilakukan langsung sebelum pembedahan.
Mencukur rambut pubis daerah genetalia eksterna dan rambut daerah dinding perut pada operasi perabdominam.
5.      Melakukan suci hama daerah operasi :
a.       Daerah genetalia eksterna dan vagina dengan memakai larutan asam pikrin, larutan betadine, larutan savlon dan sebagainya.
b.      Daerah dinding perut dengan larutan betadine, larutan iodium atau larutan savlonlalu dicuci lagi dengan latutan alcohol.
6.           Jangan lupa bahwa penderita akan NPO sekitar 8 jam sebelum pembedahan. Pemberian obat obatan selama itu harus diberikan secara IV atau IM. Antibiotika harus diberikan sebelum pembedahan bilamana itu digunakan sebagai profilaksis melawan peradangan.
7.      Darah harus diambil untuk test pada pagi hari sebelum pembedahan pada beberapa penderita, misalya glukosa darah pada penderita diabetes.
8.      Darah harus dicocokan dengan penderita bilamana akan dilakukan transfuse. Komponen darah(misal trombosit) harus disiapkan terlebih dahulu.
9.      Penderita tidak boleh makan makanan padat selama 12 jam dan minum cairan selama 8 jam sebelum pembedahan.
10.  Pemberian cairan intravena sebelum pembedahan tidak diperlukan pada berbagai kasus, tetapi pada penderita lanjut usia atau pada penderita yang lemah.

Beberapa penyuluhan atau instruksi pre operasi yang dapat meningkatkan adaptasi klien pasca operasi di antaranya :
1. Latihan nafas panjang
Sesudah operasi, pasien ada kemungkinan susah untuk bernafas daripada biasanya, oleh karena sakit dan perlu istirahat / ketenangan. Dahak susah dikeluarkan, karena dipengaruhi oleh efek anastesi. Oleh karena itu pasien yang sudah dioperasi menjadi radang paru-paru. Sehingga perlu latihan nafas panjang.
Cara berlatih :
a.       Menarik nafas dalam
b.      Keluarkan nafas pelan pelan
Gerakan ini dilakukan sebanyak banyaknya minimum 5 kali dalam sekali latihan, sekali latihan minimum 3 kali (pagi, siang, sore).
2.    Latihan mengeluarkan dahak
Setelah terlatih menarik nafas dalam, kemudian latihab batuk dan berdahak, Karena dahak yang menempel di saluran nafas itu menyebabkan radang paru-paru/ susah nafas. Sesudah operasi, biasanya pasien takut batuk dan mengeluarkan dahak sambil menekan luka operasi.
3.    Gizi yang cukup
Sebelum operasi harus mendapatkan gizi yang cukup, agar sesudah operasi luka cepat sembuh dan tenaga cepat kembali.
4.    Kumur – kumur dan menggosok gigi
(Menjaga kebersihan mulut dan gigi)
Saat sudah operasi, di dalam mulut mudah menjadi kotor. Itu menyebabkan sariawan, limfadenitis, radang paru-paru. Oleh karena itu, pasien dilatih dan dijaga kebersihan mulut dan giginya. Sejak sebelum operasi.
5.    Latihan mengeluarkan otot
Tindakan operasi akan menghabiskan banyak tenaga. Oleh karena itu, sebelum operasi perlu dilakukan latihan untuk mempertahankan/mengembalikan/ memulihkan tenaga. Sehari 3-4 kali latihan minimum 10 kali gerakan dengan cara lengan dan kaki diluruskan dan kemudian ditekuk.
Ada beberapa jenis pembedahan dalam kebidanan, antara lain :
A.    Histerektomi
B.     Laparotomi
C.     Operasi Kanker Cerviks

A.   HISTEREKTOMI  PARSIAL
1.  Pengertian
Istilah histerektomi berarti pengangkatan. Jika yang diangkat rahim, maka disebut histerektomi. Histerektomi adalah suatu prosedur operatif dimana seluruh organ dari uterus diangkat. Histerektomi merupakan suatu prosedur non obstetrik untuk wanita di negara Amerika Serikat. Histerektomi adalah operasi pengangkatan kandungan (rahim, uterus) seorang wanita, setelah menjalani histerektomi wanita tidak mungkin lagi untuk hamil. Operasi pengangkatan kandungan (histerektomi) merupakan pilihan berat bagi seorang wanita. Pasalnya, tindakan medis ini menyebabkan kemandulan dan berbagai efek lainnya. Oleh karena itu, histerektomi hanya dilakukan pada penyakit-penyakit berat pada kandungan (uterus).
Syarat melakukan histerektomi adalah :
a.  Umur ibu 35 tahun atau lebih.
b.  Sudah memiliki anak hidup 3 orang atau  lebih.
2.  Indikasi  Histerektomi
Alasan terbanyak dilakukan histerektomi karena Mioma uteri. Selain itu adanya perdarahan uterus abnormal, endometriosis, prolaps uteri (relaksasi pelvis) juga dilakukan histerektomi. Hanya 10 % dari kasus histerektomi dilakukan pada pasien dengan karsinoma. Artikel ini difokuskan secara primer untuk penggunaan histerektomi non kanker, non emergency yang mana melibatkan keputusan yang lebih menantang untuk wanita dan dokter-dokternya.
Fibrosis uteri (dikenal juga leiomioma) merupakan alasan terbanyak dilakukannya histerektomi. Leiomioma merupakan suatu perkembangan jinak (benigna) dari sel-sel otot uterus, namun etiologinya belum diketahui. Meskipun jinak dimana artinya tidak menyebabkan/berubah menjadi kanker, leiomioma ini dapat menyebabkan masalah secara medis, seperti perdarahan yang banyak, yang mana kadang-kadang diperlukan tindakan histerektomi. Relaksasi pelvis adalah kondisi lain yang menentukan tindakan histerektomi. Pada kondisi ini wanita mengalami pengendoran dari otot-otot penyokong dan jaringan disekitar area pelvik. pengendoran ini dapat mengarah ke gejala-gejala seperti inkontensia urine (Unintensional Loss of Urine) dan mempengaruhi kemampuan seksual. Kehilangan urine ini dapat dicetuskan juga oleh bersin, batuk atau tertawa.
Kehamilan mungkin melibatkan peningkatan resiko dari relaksasi pelvis, meskipun tidak ada alasan yang tepat untuk menjelaskan hal tersebut.Histerektomi juga dilakukan untuk kasus-kasus karsinoma uteri/beberapa pre karsinoma (displasia). Histerektomi untuk karsinoma uteri merupakan tujuan yang tepat, dimana menghilangkan jaringan kanker dari tubuh. Prosedur ini merupakan prosedur dasar untuk penatalaksanaan karsinoma pada uterus.
Beberapa penyebab lain adalah :
a.       Fibroid, yaitu tumor jinak rahim, terutama jika tumor ini menyebabkan perdarahan berkepanjangan, nyeri panggul, anemia, atau penekanan pada kandung kencing.
b.      Kanker serviks, rahim atau ovarium
c.       Endometriosis, dimana dinding rahim bagian dalam seharusnya tumbuh di rahim saja, tetapi ikut tumbuh di indung telur (ovarium), tuba Fallopi, atau organ perut dan rongga panggul lainnya.
d.      Adenomyosis, kelainan di mana sel endometrium tumbuh hingga ke dalam dinding rahim (sering juga disebut endometriosis interna)
e.       Prolapsus uteri, yaitu keluarnya kandungan melalui vagina.,
f.       Inflamasi Pelvis karena infeksi
3.  Pengobatan atau test untuk melaksanakan tindakan histerektomi
Untuk kasus-kasus nyeri pelvis, wanita biasanya tidak dianjurkan untuk di histerektomi. Namun penggunaan laparaskopi atau prosedur invasif lainnya digunakan untuk mencari penyebab dari nyeri tersebut. Pada kasus-kasus perdarahan abnormal uterus, bila dibutuhkan tindakan histerektomi, wanita/pasien tersebut dibutuhkan suatu sample dari jaringan uterus (biopsi endometrium). Untuk mengetahui ada tidaknya jaringan karsinoma/pre karsinoma dari uterus tersebut. Prosedur ini sering disebut sample endometriae. Pada wanita nyeri panggul/perdarahan percobaan pemberian terapi secara medikamentosa sering diberikan sebelum dipikirkan dilaksanakan histerektomi.
Maka dari itu wanita pada stadium pre menopause (masih punya periode menstrual reguler) yang mempunyai leiomioma dan menyebabkan perdarahan namun tidak menyebabkan nyeri, terapi Hormonal lebih sering dianjurkan daripada tindakan histerektomi. Jika wanita tersebut mempunyai perdarahan yang banyak sehingga menyebabkan gangguan pada aktifitas sehari-hari, berlanjut menyebabkan anemia, dan tidak mempunyai kelainan pada sampel endometriae, ia bisa dipertimbangkan untuk dilakukan histerektomi.
Pada wanita menopause (yang tidak mengalami periode menstrual secara permanen) dimana ia tidak ditemukan kelainan pada sample endometriumnya namun ia mempunyai perdarahan abnormal yang persisten, setelah pemberian terapi hormonal dapat dipertimbangkan dilakukan histerektomi. Penyesuaian dosis/tipe dari hormon juga dibutuhkan saat diputuskan penggunaan terapi secara optimal pada beberapa wanita.
Histerektomi terbagi dalam beberapa jenis yaitu :
a.       Histerektomi parsial (subtotal). Pada histerektomi jenis ini, kandungan diangkat tetapi mulut rahim (serviks) tetap ditinggal. Oleh karena itu, penderita masih dapat terkena kanker mulut rahim, sehingga masih perlu pemeriksaan Pap smear secara rutin.
b.      Histerektomi total, yaitu mengangkat kandungan termasuk mulut rahim.
c.       Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral, yaitu pengangkatan uterus, mulut rahim, kedua tuba fallopi, dan kedua ovarium. Pengangkatan ovarium menyebabkan keadaan seperti menopause.
d.      Histerektomi radikal, dimana histerektomi diikuti dengan pengangkatan bagian atas vagina serta jaringan dan kelenjar limfe di sekitar kandungan.  Operasi ini biasanya dilakukan pada beberapa jenis kanker tertentu.


4.  Prosedur Histerektomi
Histerektomi dapat dilakukan melalui sayatan di perut bagian bawah atau vagina, dengan atau tanpa laparoskopi. Histerektomi lewat perut dilakukan melalui sayatan melintang seperti yang dilakukan pada operasi sesar. Histerektomi lewat vagina dilakukan dengan sayatan pada vagina bagian atas. Sebuah alat yang disebut laparoskop mungkin dimasukkan melalui sayatan kecil di perut untuk membantu pengangkatan rahim lewat vagina.  Histerektomi vagina lebih baik dibandingkan histerektomi perut karena lebih kecil risikonya dan lebih cepat pemulihannnya. Namun demikian, keputusan melakukan histerektomi lewat perut atau vagina tidak didasarkan hanya pada indikasi penyakit tetapi juga pada pengalaman dan preferensi masing-masing ahli bedah.
Perlu diingat aturan utama sebelum dilakukan tipe histerektomi, wanita harus melalui beberapa test untuk memilih prosedur optimal yang akan digunakan :
a.       Pemeriksaan panggul lengkap (Antropometri) termasuk mengevaluasi uterus di ovarium
b.      Papsmear terbaru.
c.       USG panggul, tergantung pada temuan diatas.
B.   LAPAROTOMI
1.    Pengertian
Laparotomy adalah operasi yang dilakukan untuk membuka abdomen (bagian perut). Kata "laparotomy" pertama kali digunakan untuk merujuk operasi semacam ini pada tahun 1878 oleh seorang ahli bedah Inggris, Thomas Bryant. Kata tersebut terbentuk dari dua kata Yunani, "lapara" dan "tome". Kata "lapara" berarti bagian lunak dari tubuh yg terletak di antara tulang rusuk dan pinggul. Sedangkan "tome" berarti pemotongan.
Laparotomy dilakukan untuk memeriksa beberapa organ di abdomen sebelah bawah dan pelvis (rongga panggul) yang melingkupi Insisi Vertikal (midline, paramedian, supraumbilikal), insisi Transversal dan Oblik serta insisi Abdominothoracic. Operasi ini juga dilakukan sebelum melakukan operasi pembedahan mikro pada tuba fallopi.
Ada beberapa cara, yaitu;
a.  Midline Epigastric Insision (irisan median atas)
Insisi dilakukan persis pada garis tengah dimulai dari ujung Proc. Xiphoideus hingga 1 cm diatas umbilikus. Kulit, fat subcutan, linea alba, fat extraperitoneal, dan peritoneum dipisahkan satu persatu. Membuka peritoneum dari bawah.
b. Midline Subumbilical Insision (irisan median bawah)
Irisan dari umbilikus sampai simfisis, membuka peritoneum dari sisi atas. Irisan median atas dan bawah dapat disambung dengan melingkari umbilikus.
Peritoneum harus dibuka dengan sangat hati-hati. Cara yang paling aman adalah membukanya dengan menggunakan dua klem artery, yang dijepitkan dengan sangat hati-hati pada peritoneum. Kemudian peritoneum diangkat dan sedikit diggoyang-goyang untuk memastikan tidak adanya struktur dibawahnya yang ikut terjepit. Kemudian peritoneum diinsisi dengan menggunakan gunting. Insisi diperlebar dengan memasukkan 2 jari kita yang akan dipergunakan untuk melindungi struktur dibawahnya sewaktu kita membuka seluruh peritoneum.Bila penderita pernah mengalami laparotomi dengan irisan median, sebaiknya irisan ditambahkan keatas atau bawah dan membuka peritoneum diatas atau dibawah irisan lama. Setelah peritoneum terbuka organ abdomen dipisahkan dengan hati-hati dari peritoneum. Pada kasus emerjensi, lebih baik melakukan irisan median.
1)      Paramedian Insision ”trapp door” (konvensional)
Insisi ini dapat dibuat baik di sebelah kanan atau kiri dari garis tengah. Kira-kira 2,5-5 cm dari garis tengah. Insisi dilakukan vertical, diatas sampai bawah umbilkikus, m.rectus abdominis didorng ke lateral dan peritoneum dibuka juga 2.5 cm lateral dari garis tengah. Pada irisan dibawah umbilikus diperhatikan epigastrica inferior yang harus dipisahkan dan diikat.
2)      Lateral Paramedian Insision
Adalah modifikasi dari Paramedian Insision yang dikenalkan oleh Guillou
et al. Dimana fascia diiris lebih lateral dari yang konvensional Secara teoritis, teknik ini akan memperkecil kemungkinan terjadinya wound dehiscence dan insisional hernia dan lebih baik dari yang konvensional.
3)      Vertical Muscle Splitting Insision (paramedian transrect)
Insisi ini sama dengan paramedian insision konvensional, hanya otot rectus pada insisi ini dipisahkan secara tumpul (splitting longitudinally) pada 1/3 tengahnya, atau jika mungkin pada 1/6 tengahnya. Insisi ini berguna untuk membuka scar yang berasal dari insisi paramedian sebelumnya. Kemungkinan hernia sikatrikalis lebih besar.
4)      Kocher Subcostal Insision
Insisi Subcostal kanan yang biasanya digunakan untuk pembedahan empedu dan saluran empedu.
Insisi dilakukan mulai dari garis tengah, 2,5-5 cm di bawah Proc. Xiphoideus dan diperluas menyusuri batas costa kira-kira 2,5 cm dibawahnya, dengan memotong muskulus rektus dan otot dinding abdomen lateral.
5)      Irisan McBurney Gridiron – Irisan oblique
Dilakukan untuk kasus Apendisitis Akut Dan diperkenalkan oleh Charles McBurney pada tahun 1894, otot-otot dipisahkan secara tumpul.
6)      Irisan Rocky Davis
Insisi dilakukan pada titik McBurney secara transverse skin crease, irisan ini lebih kosmetik.
7)      Pfannenstiel Insision
Insisi yang popular dalam bidang gynecologi dan juga dapat memberikan akses pada ruang retropubic pada laki-laki untuk melakukan extraperitoneal retropubic prostatectomy.
Insisi dilakukan kira-kira 5 cm diatas symphisis Pubis skin crease sepanjang ± 12 cm. Fascia diiris transversal, muskulus rektus dipisahkan ke lateral dan peritoneum dibuka secara vertikal.
8)      Insisi Thoracoabdominal
Insisi Thoracoabdominal, baik kanan maupun kiri, akan membuat cavum pleura dan cavum abdomen menjadi satu. Dimana insisi ini akan membuat akses operasi yang sangat baik. Insisi thorakoabdominal kanan biasanya dilakukan untuk melakukan emergensi ataupun elektif reseksi hepar Insisi thorakoabdominal kiri efektif jika dilakukan untuk melakukan reseksi dari bagian bawah esophagus dan bagian proximal dari lambung.
Penderita berada dalam posisi “cork-screw”. Abdomen diposisikan kira-kira 45° dari garis horizontal, sedangkan thorax berada dalam posisi yang sepenuhnya lateral. Insisi pada bagian abdomen dapat merupakan midline insision ataupun upper paramedian insision. Insisi ini dilanjutkan dengan insisi oke spasi interkostal VIII sampai ujung scapula.
a)      Setelah abdomen dibuka, insisi pada dada diperdalam dengan menembus m.latissimus dorsi, serratus anterior, dan obliquus externus dan aponeurosisnya. Insisi pada abdomen tadi dilanjutkan hingga mencapai batas costa
b)      M.Intercostal 8 dipisahkan untuk mencapai cavum pleura. Finochietto chest retractor dimasukkan pada intercostal 8 dan pelan-pelan di buka. Dan biasanya kita tidak perlu untuk memotong costa.
c)      Diphragma dipotong melingkar 2 – 3 cm dari tepi dinding lateral toraks sampai hiatus esofagus untuk menghindari perlukaan n.phrenicus. Pada akhir operasi dipasang drain toraks lewat irisan lain.
d)     Penutupan dari insisi ini adalah dimulai dengan menjahit diaphragma secara matras 2 lapis dengan benang non absorbabel, otot dada dan dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.
2.    Indikasi
Dalam bidang kebidanan dan kandungan cukup banyak kasus yang dapat ditangani, antara lain mioma (tumor jinak rahim), kista indung telur, hamil di luar kandungan, endometriosis (nyeri haid), infertilitas (sulit hamil), KB steril, perlengketan dalam perut, dan polikistik ovarium.Selain itu kasus –kasus yang dapatditangani dengan laparotomi yakni: trauma abdomen (tumpul atau tajam), peritonitis, perdarahan saluran pencernaan, sumbatan pada usus halus dan usus besar, masa pada abdomen. Semua kelainan intraabdomen yang memerlukan operasi baik darurat maupun elektif, seperti Hernia diafragmatika, aneurisma aorta torakolis dan aorta abdominalis, kelainan oesofagus, kelainan liver.
3.    Komplikasi
a.      Stitch abscess
Biasanya muncul pada hari ke 10 postopersi atau bisa juga sebelumnya, sebelum jahitan insisi tersebut diangkat.. Abses ini dapat superficial ataupun lebih dalam. Jika dalam ia dapat berupa massa yang teraba dibawah luka, dan terasa nyeri jika di raba. Abses ini biasanya akan diabsopsi dan hilang dengan sendirinya, walaupun untuk yang superficial dapat kita lakukan insisi pada abses tersebut. Antibiotik jarang diperlukan untuk kasus ini.
b.      Infeksi luka operasi
Biasanya jahitan akan terkubur didalam kulit sebagai hasil dari edema dan proses inflamasi sekitarnya. Penyebabnya dapat berupa Staphylococcus Aureus, E. Colli, Streptococcus Faecalis, Bacteroides, dsb. Penderitanya biasanya akan mengalami demam, sakit kepala, anorexia dan malaise. Keadaan ini dapat diatasi dengan membuka beberapa jahitan untuk mengurangi tegangan dan penggunaan antibiotika yang sesuai. Dan jika keadaannya sudah parah dan berupa suppurasi yang extensiv hingga kedalam lapisan abdomen, maka tindakan drainase dapat dilakukan.
c.       Gas Gangrene
Biasanya berupa rasa nyeri yang sangat pada luka operasi, biasanya 12-72 jam setelah operasi, peningkatan temperature (39° -41° C), Takhikardia (120-140/m), shock yang berat. Keadaan ini ddapat diatasi dengan melakukan debridement luka di ruang operasi, dan pemberian antibiotika, sebagai pilihan utamanya adalah, penicillin 1 juta unit IM dilanjutkan dengan 500.000 unit tiap 8 jam.
d.      Hematoma
Kejadian ini kira-kira 2% dari komplikasi operasi. Keadaan ini biasanya hilang dengan sendirinya, ataupun jika hematom itu cukup besar maka dapat dilakukan aspirasi.
e.       Keloid Scars
Penyebab dari keadaan ini hingga kini tidak diketahui, hanya memang sebagian orang mempunyai kecenderungan untuk mengalami hal ini lebih dari orang lain. Jika keloid scar yang terjadi tidak terlalu besar maka injeksi triamcinolone kedalam keloid dapat berguna, hal ini dapat diulangi 6 minggu kemudian jika belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Jika keloid scar nya tumbuh besar, maka operasi excisi yang dilanjutkan dengan skin-graft dapat dilakukan.
f.       Abdominal wound Disruption and Evisceration
Disrupsi ini dapat partial ataupun total. Insidensinya sendiri bervariasi antara 0-3 %. Dan biasanya lebih umum terjadi pada pasien >60 tahun dibanding yang lebih muda. Laki-laki dibanding wanita 4 : 1.
4.    Tindakan Pre Operatif
Penatalaksanaan Perawatan
a.       Pengkajian meliputi obyektif dan subyektif.
1)  Data subyektif meliputi;
a)      Nyeri yang sangat pada daerah perut.
2)  Data obyektif meliputi :
a)        Napas dangkal
b)        Tensi turun
c)        Nadi lebih cepat
d)       Abdomen tegang
e)        Defense muskuler positif
f)         Berkeringat
g)        Bunyi usus hilang
h)        Pekak hati hilang
b.      Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen.
2) Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi.
3) Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.
c.       Hasil yang diharapkan
1)    Pasien akan tetap merasa nyaman.
2)    Pasien akan tetap mempertahankan kesterilan luka operasinya.
3)    Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
d.      Tindakan keperawatan (intevensi keperawatan) pre operatif :
1)  Pertahankan pasien untuk bedrest sampai diagnosa benar-benar sudah ditegakkan.
2)  Tidak memberikan apapun melaui mulut dan beritahukan pasien untuk tidak makan dan minum.
3)  Monitoring cairan intra vena bila diberikan.
4)  Mencatat intake dan output.
5)  Posisi pasien seenak mungkin.
6)  Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan.
7)  Ajarkan pasien hal-hal yang perlu dilakukan setelah operasi selesai.
8)  Monitoring tanda-tanda vital.
e.       Diagnosis
1)    Foto polos abdomen
2)    CT scan abdomen
3)    USG abdomen
Adapun prosedur daripada laparotomi adalah seperti layaknya operasi konvensional, laparoskopi tetap memerlukan pembiusan dan dilakukan di kamar operasi. Setelah pembiusan, dinding perut disayat pada daerah pusat/umbilikus sekitar 1 cm. Kemudian dimasukkan kamera kecil untuk melihat organ-organ didalam rongga perut. Setelah itu dibuat sayatan kedua dan ketiga pada dinding perut bagian bawah, sedikit diatas tulang pinggul, diameter 0,5 cm, untuk memasukkan alat-alat berupa ’stik’ sebagai pengganti tangan dokter.
Langkah-langkah pada laparotomi darurat adalah :
a.       Segera mengadakan eksplorasi untuk menemukan sumber perdarahan.
b.      Usaha menghentikan perdarahan secepat mungkin. Bila perdarahan berasal dari organ padat penghentian perdarahan dicapai dengan tampon abdomen untuk sementara. Perdarahan dari arteri besar hams dihentikan dengan penggunaan klem vaskuler. Perdarahan dari vena besar dihentikan dengan penekanan langsung.
c.       Setelah perdarahan berhenti dengan tindakan darurat diberikan kesempatan pads anestesi untuk memperbaiki volume darah.
d.      Bila terdapat perforasi atau laserasi usus diadakan penutupan lubang perforasi atau reseksi usus dengan anastomosis.
e.       Diadakan pembersihan rongga peritoneum dengan irigasi larutan NaCl fisiologik.
f.       Sebelum rongga peritoneum ditutup harus diadakan eksplorasi sistematis dari seluruh organ dalam abdomen mulai dari kanan atas sampai kiri bawah dengan memperhatikan daerah retroperitoneal duodenum dan bursa omentalis.
g.      Bila sudah ada kontaminasi rongga peritoneum digunakan drain dan subkutis serta kutis dibiarkan terbuka.


Lama perawatan pasca laparoskopi:
Karena tindakan operasi yang minimal invasif, maka perawatan setelah operasi hanya satu hari saja (dengan catatan jika tidak terjadi komplikasi selama operasi).Dan setelah itu pasien dapat kembali beraktivitas normal.

5.    Post Laparotomi
Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut.
Tujuan perawatan post laparatomi
a.       Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
b.      Mempercepat penyembuhan.
c.       Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.
d.      Mempertahankan konsep diri pasien.
e.       Mempersiapkan pasien pulang.
Latihan-latihan fisik yang dilakukan post laparotomi adalah latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi.
Tindakan keperawatan post operasi:
a.       Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
b.      Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.
c.       Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain    tercabut.
d.      Perawatan luka operasi secara steril.
Evaluasi post operasi :
a.       Evaluasi tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :
1)      Suhu tubuh normal
2)      Nada normal
3)      Perut tidak kembung
4)      Peristaltik usus normal
5)      Flatus positif
6)      Bowel movement positif
b.      Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas.
c.       Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi.
d.      Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa.
e.       Luka operasi baik. 
Komplikasi post laparatomi;
a.       Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif.
b.      Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptic.
c.       Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.
Proses penyembuhan luka
a.       Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.
b.      Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan
c.       Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.
d.      Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.
Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan
a.       Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
b.      Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
c.       Pencegahan infeksi.
Pengembalian Fungsi fisik.
Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektif, latihan mobilisasi dini. Mempertahankan konsep diri.
Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi
Pengkajian
Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy adalah:
a.       Respiratory
Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan, bunyi pernapasan.
b.      Sirkulasi
Tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill kapiler.
c.       Persarafan : Tingkat kesadaran
d.      Balutan
1)      Apakah ada tube, drainage
2)      Apakah ada tanda-tanda infeksi
3)      Bagaimana keadaan penyembuhan luka pasien yang menjalani laparotomi
e.       Peralatan
1)      Monitor yang terpasang.
2)      Cairan infus atau transfusi.
f.       Rasa nyaman
Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan fasilitas ventilasi
g.      Psikologis : Kecemasan, suasana hati setelah operasi.
C.   KANKER SERVIK
     Kanker serviks merupakan salah satu kanker yang paling umum yang mengenai organ reproduksi wanita. Beberapa jenis human papilloma virus, suatu infeksi menular seksual, mempunyai peran penting dalam kebanyakan kasus kanker serviks.
Setelah terpapar HPV, sistem imun wanita biasanya mencegah virus untuk membahayakan tubuh. Pada beberapa kelompok wanita, virus ini dapat bertahan selama bertahun-tahun sampai pada akhirnya mengkonversi beberapa sel pada permukaan serviks menjadi sel kanker. Setengah dari kejadian kanker serviks terjadi pada wanita diantara umur 35 dan 55.
Pada umumnya, kanker bermula pada saat sel sehat mengalami mutasi genetik yang mengubahnya dari sel normal menjadi sel abnormal. Sel sehat tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang teratur. Sel kanker tumbuh dan bertambah banyak tanpa kontrol dan mereka tidak mati. Adanya akumulasi sel abnormal akan membentuk suatu massa (tumor). Sel kanker menginvasi jaringan sekitar dan dapat berkembang dan tersebar di tempat lain di dalam tubuh (metastasis)
Kanker serviks paling sering bermula dengan sel datar, tipis yang membentuk dasar serviks (sel skuamosa). Karsinoma sel squamosa merupakan 80% dari kasus kanker serviks. Kanker serviks dapat juga terjadi pada sel kelenjar yang membentuk bagian atas dari cerviks. Dapat disebut dengan adenocarcinoma, prevalensi kanker ini yaitu 15% dari kanker serviks. Kadang-kadang kedua tipe sel ditemukan pada kanker serviks. Terdapat kanker lain pada sel lain di serviks namun persentasenya sangat kecil.
1.  Pemeriksaan diagnostic
a.       Sitologi/Pap Smear
                   Keuntungan :  murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
             Kelemahan  :  tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
b.      Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat   yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.

c.       Koloskopi
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali.
Keuntungan : dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy. 
Kelemahan : hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat.
d.      Biopsi
Dengan biopsy dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.
e.       Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan  pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.
2.    Terapi
a.      Irradiasi
1)      Dapat dipakai untuk semua stadium.
2)      Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk
3)      Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.
4)      Dosis Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks
Komplikasi Irradiasi
1)      Kerentanan kandungan kencing
2)      Diarrhea
3)      Perdarahan rectal
4)      Fistula vesico atau rectovaginalis
b.      Operasi
1)      Memilih teknik operasi
Dalam pengangkatan rahim seseorang, dapat dilakukan pada seluruh rahim yang dikenal dengan histerektomi total atau sebagian saja yang dikenal dengan histerektomi supraservikal/sub total, hal ini sangat tergantung pada jenis tumor. Bila tumor jinak, maka sebaiknya dilakukan operasi histerektomi supraservikal/parsial atau supravaginal, sebab ada pendapat bahwa serviks (mulut rahim) diperlukan untuk kepuasan fungsi seksual, dan risiko menghindari efek psikis bagi seseorang wanita bila seluruh alat reproduksi diangkat sehingga dia beranggapan menjadi tidak sempurna lagi layaknya seorang perempuan. Hal ini hanya bisa dilakukan bila seorang wanita yang sehat serviksnya atau dengan kata lain melakukan Papsmear secara teratur. Bila hasil test Papsmear tidak normal, dapat berisiko kanker leher rahim suatu waktu. Tindakan operasi histerektomi parsial tidak dianjurkan bila suatu tumor yang berisiko ganas. Soalnya, cara ini masih menyisakan sel tumor pada bagian rahim yang tidak diangkat.
Teknik operasi histerektomi diperluas adalah suatu jenis operasi yang dilakukan pada operasi kanker leher rahim, yang masih layak dilakukan operasi. Di sini beberapa kelenjar limfa yang berdekatan dengan rahim turut juga diangkat demi meminimalkan penyebaran tumor tersebut. Sebaiknya bila Anda atau istri Anda punya rencana untuk dilakukan operasi pengangkatan rahim, maka tidak salahnya berkonsultasi dulu dengan dokter untuk memastikan jenis operasi yang dilakukan demi optimalisasi aktivitas reproduksi.
Jadi ada beberapa jenis operasi yang dapat dilakukan untuk menangani kanker servik, antara lain :
a)  Operasi limfadektomi untuk stadium I dan II
b)  Operasi histerektomi vagina yang radikal
c)  Operasi histerektomi vagina yang parsial
c.       Kombinasi (Irradiasi dan pembedahan)
Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah.
d.      Cytostatika : Bleomycin
Terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5 %   dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.
3.      Pra Operasi Kanker Serviks
a.      Perencanaan dan Pra Operasi
1)      Inform Consent / Surat Persetujuan Operasi
Inform consent merupakan salah satu hal penting dari persiapan operasi, di mana sebelum memberi persetujuan terhadap dokter untuk dioperasi, anda terlebih dahulu harus diterangkan mengenai :
a)      Kondisi kesehatan dan mengapa operasi ini dipilih sebagai pengobatan
b)      Tujuan operasi
c)      Bagaimana operasi itu sendiri
d)     Keuntungan operasi terhadap anda
e)      Resiko operasi
f)       Efek samping operasi
g)      Pilihan pengobatan lain.
Dengan menandatangani inform consent tersebut berarti anda sudah menerima segala informasi dan bersedia untuk dioperasi. Disarankan untuk anda membaca dan memahami dengan baik seluruh isi inform consent tersebut dan semua pertanyaan anda telah dijawab oleh dokter. Jika perlu, anda di dampingi oleh keluarga atau teman saat menandatangani inform consent.
b.      Pemeriksaan Pra Operasi
Pemeriksaan pra operasi ini ditujukan untuk memeriksa apakah ada faktor resiko bagi anda untuk menjalani operasi sederhana ini, misalnya resiko pemanjangan waktu pembekuan darah yang menjadi faktor resiko untuk terjadinya perdarahan abnormal. dapun pemeriksaan yang dilakukan berupa :
1)      Anamnesis      :       menanyakan riwayat penyakit dahulu berupa darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, alergi atau kondisi lain yang berhubungan dengan operasi.
2)      Laboratorium : Darah Lengkap (pemeriksaan darah lengkap dan faal darah).  Jika pemeriksaan darah normal, maka anda akan dipersiapkan untuk melakukan operasi ; menghitung jumlah darah, resiko perdarahan dan infeksi, fungsi ginjal dan hepar dan untuk penyediaan transfusi darah saat operasi.
3)      Urinalisis         :       memeriksa keadaan ginjal dan adanya infeksi, X-ray dada dan EKG (elektrokardiografi) untuk memeriksa keadaan jantung dan paru.
4)      Lain - lain       :        CT scan untuk melihat ukuran dan lokasi tumor serta penyebarannya.
Jika anda menggunakan anestesi total (bius total), maka anda akan dipertemukan dengan dokter anestesi yang akan menangani anda. Dan bukan tidak mungkin jika dokter akan meminta pemeriksaan lain yang berhubungan dengan kondisi yang mempengaruhi operasi.
Diagnose suatu penyakit diupayakan sejelas mungkin sebelum therapi pembedahan dijalankan. Dan bagi operator atau dokter Bedah sendiri, tentu  tidak akan memiliki arah yang pasti di saat berlangsungnya operasi, apa bagaimana dan seberapa yang mesti dibedah jika informasi atau assessment–pendekatan ke arah diagnose pasti- belum optimal. Sehingga diperlukan pemeriksaan tambahan di luar pemeriksaan fisik untuk menuju kepastian itu. Mungkin akan diperlukan pemeriksaan laboratorium saja atau dibutuhkan lagi pemeriksaan penunjang yang masih taraf sederhana sampai yang sudah canggih. Misalnya, pemeriksaan rontgen atau x-ray, pemeriksaan  USG, CT scan, MRI dan pemeriksaan yang sifatnya lebih invasif, seperti x-ray atau CT scan dengan kontras, biopsi, endoscopy (colonoscopy, ureteroscopy, arthroscopy, bronchoscopy, laparoscopy dll). Memang semakin maju perkembangan teknologi, semakin canggih pula alat pemeriksaan di bidang medis yang membuat pasien semakin nyaman.
c.       Persiapan Operasi
1)      Mengosongkan isi perut (lambung dan usus) dari malam sebelum operasi, dengan cara puasa makan dan minum serta penggunaan laksatif untuk mengosong isi perut. Hal ini ditujukan untuk mencegah terjadinya aspirasi (terhirup) muntahan ke paru saat dianestesi, di mana aspirasi tersebut dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada paru.
2)      Mencukur area yang akan dioperasi, untuk mencegah rambut masuk ke dalam area operasi dan menyebabkan terjadinya infeksi.
3)      Persiapan Fisik dan Mental
Selain mempersiapkan mental, waktu dan biaya, pembedahan berencana seperti misalnya pembedahan pada kasus kanker serviks juga mewajibkan pasien untuk menyiapkan kondisi fisik demi lancarnya operasi yang akan berlangsung. Persiapan fisik ini berhubungan dengan  kelainan atau penyakit yang akan dibedah tersebut, dan juga persiapan fisik berkenaan dengan pembiusan, agar obat-obat bius yang nantinya diberikan tidak menimbulkan efek negatif akibat kemampuan respon tubuh yang tidak normal lagi.
Karena tubuh pasti akan mengalami stress pembedahan, baik dari kemampuan fungsi masing - masing organ vital maupun cedera langsung yang diterimanya, maka untuk kepentingan pembiusan agar obat - obat yang diberikan sebelum dan selama proses berlangsungnya operasi bisa direspon dengan baik, harus ada jaminan akan fungsi dan kondisi tubuh yang baik pula. Maka jika penderita akan dipersiapkan menjalani operasi dengan pembiusan umum ataupun regional pada yang berusia di atas 40 tahun diwajibkan  memeriksa lab untuk mengetahui fungsi pembekuan darah, fungsi liver, ginjal,  endokrin, elektrolit, status gizi dan pemeriksaan elekrokardiografi (EKG) untuk menilai keadaan jantung. Pemeriksaan - pemeriksaan tersebut termasuk pemeriksaan standard yang sebaiknya dicek secara lengkap.
Sedangkan untuk jangka pendek, setidaknya 8 jam sebelum masuk ke dalam kamar operasi, fisik penderita diharapkan sudah fit, tidak sedang pilek, batuk atau yang lainnya, dalam keadaan bersih hingga ke cuci rambut dan siap menanggalkan asesoris seperti perhiasan, gigi palsu, tidak bergincu dan cat kuku mesti dihapus. Ini dilakukan untuk mencegah kontaminasi operasi dan menunjang sterilitas proses operasi.
Dari perhatian tim bedah, justru kesiapan fisik penderita yang paling penting, sebab sangat mempengaruhi sekali stabilitas kondisi tubuh selama proses operasi dan menentukan hasil pembedahan serta perawatan pasca operasinya. Sehingga untuk kasus bedah berencana yang tergolong berat dan penanganannya akan dikerjakan dalam waktu relatif lama apalagi penderita berumur di atas 40 tahun, sebaiknya penderita sudah berada di rumah sakit setidaknya satu hari menjelang pelaksanaan operasi. Sehingga baik dari kesiapan yang berhubungan dengan pembedahan maupun yang berhubungan dengan proses pembiusannya sehingga penderita betul – betul  dalam keadaan optimal dan siap untuk ditempatkan di atas meja operasi.

d.      Anestesi
Anestesi (bius) adalah cara untuk menghilangkan nyeri pada periode tertentu. Hal tersebut tergantung dari jenis dan lama operasi, dan ini juga mempengaruhi apakah perlu anda sadar atau tidak saat operasi berlangsung. Pilihan anestesi yang dapat anda pilih berupa :
1)  Anestesi regional
Hampir sama dengan anestesi lokal, namun area yang dibius lebih luas dan pasien juga tetap sadar. Di mana obat anestesi disuntikan pada tulang belakang, tangan atau kaki sehingga melumpuhkan sementara saraf?- saraf yang keluar dari area tersebut. Obat anestesi regional ini dapat berupa suntikan tunggal atau drip infus.
2)   Anestesi total
Anestesi total membuat seseorang jatuh dalam keadaan tak sadar, di mana obat dapat dihirup atau disuntikan. Saat anestesi total dilakukan, pipa endotrakeal akan dimasukkan melalui mulut anda untuk membantu pernafasan anda.
Dokter anestesi dan perawat akan mengawasi keadaan fungsi vital anda (tekanan darah, nadi, pernafasan) selama operasi sampai anda terbangun, juga tak lupa melepaskan pipa endotrakeal tadi.

4.      Post Operasi Kanker Serviks
Setelah operasi, pasien dapat merasa sedikit mual, oleh karena efek samping anestesi umum; juga nyeri dan perasaan tidak nyaman di daerah perut. Keduanya dapat dihilangkan dengan obat. Selain itu terdapat cairan / perdarahan dari vagina yang akan berkurang setelah beberapa hari. Pasien dianjurkan untuk bangun dari tempat tidur dan berjalan pada hari 1 setelah operasi. Latihan ini penting untuk menghindari konstipasi (sembelit) dan gas; mengurangi resiko penggumpalan darah dan infeksi paru.
Secara umum, waktu rawat inap untuk abdominal histerektomi tanpa komplikasi adalah 3-5 hari dan 2-3 hari untuk vaginal / laparoskopik histerektomi. Waktu pemulihan pasca histerektomi tergantung dari tipe histerektomi dan individu itu sendiri. Wanita yang menjalani abdominal histerektomi secara umum akan membutuhkan 6-8 minggu sebelum mereka dapat beraktivitas seperti biasa. Sedangkan bagi wanita dengan vaginal / laparoskopik histerektomi dapat pulih dalam waktu yang lebih singkat. Waktu rawat inap untuk radikal trakelektomi adalah 2-3 hari. Kebanyaka wanita pulih sangat cepat dan jarang terjadi komplikasi.
Pasien seharusnya menghindari mengangkat barang berat, jongkok, tekanan pada luka operasi, olahraga aktif maupun penetrasi seksual selama pemulihan.
Check-up biasanya dilakukan 6 minggu setelah operasi, untuk meyakinkan bahwa segala sesuatunya sembuh dengan baik. Pasien dapat mendiskusikan apa yang dikhwatirkan dan bertanya aktivitas apa yang boleh dilakukan mulai saat itu dengan dokter yang merawat.
a.      Masa Penyembuhan
1)      Orang yang mendapat anestesi lokal dapat segera pulang, namun orang yang mendapat anestesi regional atau total harus dirawat dalam ruangan penyembuhan sampai pengaruh anestesi habis.
2)      Orang di bawah pengaruh sisa anestesi, akan merasakan perasaan berat, sedang bermimpi dan tidak sadar sepenuhnya sampai keesokan harinya. Hal ini bergantung kondisi pra operasi dan luas operasi.
3)      Anda juga akan mendapat obat pereda nyeri selama di rumah sakit dan pada saat rawat jalan.
4)      Tenggorok anda akan terasa sedikit nyeri oleh karena pemasangan pipa endotrakeal.
5)      Anda juga akan dipasangi kateter urin untuk mengalirkan air kencing anda ke suatu tas khusus, umumnya selesai operasi kateter ini dilepas. Namun, bila ginjal bermasalah tetap dipasang. Dan para dokter atau paramedia juga akan memeriksa jumlah urin anda.
6)      Pada tubuh yang dioperasi juga akan dipasang drain untuk mengeluarkan cairan yang terkumpul akibat operasi.
7)      Anda sebaiknya makan dan minum walaupun ada perasaan tidak nafsu makan / minum, sebab hal ini mempercepat masa penyembuhan. Sebaiknya dilakukan setelah dokter menyatakan bahwa anda dapat minum dan makan (baiknya untuk minum terlebih dahulu).
8)      Para tim perawatan anda mungkin berupaya agar anda beraktivitas setelah operasi. Hal ini ditujukan untuk mempercepat masa penyembuhan, memperlancar aliran darah sehingga mencegah terjadinya pembekuan (clotting) pada kaki.
b.      Konsep Keperawatan
1)      Pengkajian Data dasar.
Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang
2)      Identitas pasien
Usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak, agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir
3)      Keluhan utama
Pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai keputihan menyerupai air.
4)      Riwayat penyakit sekarang
Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal.
5)      Riwayat penyakit sebelumnya
Data yang perlu dikaji adalah Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat ooperasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang menderita kanker.
6)      Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya
Ca. Serviks sering dijumpai pada kelompok sosial ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat personal hygiene terutama kebersihan dari saluran urogenital.
7)      Data khusus
Riwayat kebidanan paritas, kelainan menstruasi, lama,jumlah dan warna darah, adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang
8)      Pemeriksaan penunjang
Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear, kolposkopi, servikografi, pemeriksaan visual langsung, gineskopi.
c.       Diagnosa Keperawatan
1)      Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahn intraservikal.
2)      Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan nafsu makan
3)      Gangguan rasa nyama (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal.
4)      Cemas b.d terdiagnose c.a serviks sekunder akibat kurangnya pengetahuan tentang Ca.Serviks dan pengobatannya.
5)      Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan terhadap pemberian sitostatika.
d.      Perencanaan
1)      Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahan masif intra cervical
a)      Tujuan  :
Setelah diberikan perawatan selama 1 X 24 jam diharapkan perfusi jaringan membaik
b)      Kriteria hasil :
(1)   Perdarahan intra servikal sudah berkurang
(2)   Konjunctiva tidak pucat
(3)   Mukosa bibir basah dan kemerahan
(4)   Ektremitas hangat
(5)   Hb 11-15 gr %
(6)   Tanda vital 120-140 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 70 - 80 X/mnt, S : 36-37 Derajat C, RR : 18 - 24 X/mnt.
c)      Intervensi
(1)   Observasi tanda-tanda vital
(2)   Observasi perdarahan ( jumlah, warna, lama )
(3)   Cek Hb
(4)   Cek golongan darah
(5)   Beri O2 jika diperlukan
(6)   Pemasangan vaginal tampon.
(7)   Therapi IV
2)      Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu makan.
a)      Tujuan :
Setelah dilakukan perawatan kebutuhan nutrisi klien akan terpenuhi
b)      Kriteria hasil :
(1)   Tidak terjadi penurunan berat badan
(2)   Porsi makan yang disediakan habis
(3)   Keluhan mual dan muntah kurang
c)      Intervensi :
(1)   Jelaskan tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan
(2)   Berika makan TKTP
(3)   Anjurkan makan sedikit tapi sering
(4)   Jaga lingkungan pada saat makan
(5)   Pasang NGT jika perlu
(6)   Beri Nutrisi parenteral jika perlu.
3)      Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal
a)      Tujuan
Setelah dilakukan tindakan 1 X 24 jam diharapka klien tahu cara-cara mengatasi nyeri yang timbul akibat kanker yang dialami
b)    Kriteria hasil :
(1)   Klien dapat menyebutkan cara-cara menguangi nyeri yang dirasakan
(2)   Intensitas nyeri berkurangnya
(3)   Ekpresi muka dan tubuh rileks
c)     Intervensi :
(1)   Tanyakan lokasi nyeri yang dirasakan klien
(2)   Tanyakan derajat nyeri yang dirasakan klien dan nilai dengan skala nyeri
(3)   Ajarkan teknik relasasi dan distraksi
(4)   Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien
(5)   Kolaborasi dengan tim paliatif nyeri
4)      Cemas yang b.d terdiagnose kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang kanker serviks, penanganan dan prognosenya.
a)      Tujuan :
Setelah diberikan tindakan selama 1 X 30 menit klien mendapat informasi tentang penyakit kanker yang diderita, penanganan dan prognosenya.
b)      Kriteria hasil :
(1)   Klien mengetahui diagnose kanker yang diderita
(2)   Klien mengetahui tindakan - tindakan yang harus dilalui klien.
(3)   Klien tahu tindakan yang harus dilakukan di rumah untuk mencegah komplikasi.
(4)   Sumber-sumber koping teridentifikasi
(5)   Anastesitas berkurang
(6)   Klien mengutarakan cara mengantisipasi ansietas.
c)      Tindakan :
(1)   Berikan kesempatan pada klien dan klien mengungkapkan persaannya
(2)   Dorong diskusi terbuka tentang kanker, pengalaman orang lain, serta tata cara
(a)    mengentrol dirinya.
(b)   Identifikasi mereka yang beresiko terhadap ketidak berhasilan penyesuaian. ( Ego yang buruk, kemampuan pemecahan masalah tidak efektif, kurang motivasi, kurangnya sistem pendukung yang positif).
(c)    Tunjukkan adanya harapan
(d)   Tingkatkan aktivitas dan latihan fisik
5)      Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sekunder terhadap pemberian sitostatika.
a)      Tujuan :
Setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi klien menjadi stabil
b)      Kriteria hasil :
(1)   Klien mampu untuk mengeskpresikan perasaan tentang kondisinya
(2)   Klien mampu membagi perasaan dengan perawat, keluarga dan orang dekat.
(3)   Klien mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya secara konstruktif.
(4)   Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri.

c)      Intervensi :
(1)   Kontak dengan klien sering dan perlakukan klien dengan hangat dan sikap positif.
(2)   Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikanbperasaan dan pikian tentang kondisi, kemajuan, prognose, sisem pendukung dan pengobatan.
(3)   Berikan informasi yang dapat dipercaya dan klarifikasi setiap mispersepsi tentang penyakitnya.
(4)   Bantu klien mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup mandiri melewati hidup dengan kanker, meliputi hubungan interpersonal, peningkatan pengetahuan, kekuatan pribadi dan pengertian serta perkembangan spiritual dan moral.
(5)   Kaji respon negatif terhadap perubahan penampilan (menyangkal perubahan, penurunan kemampuan merawat diri, isolasi sosial, penolakan untuk mendiskusikan masa depan.
(6)   Bantu dalam penatalaksanaan alopesia sesuai dengan kebutuhan.
(7)   Kolaborasi dengan tim kesehatan lain yang terkait untuk tindakan konseling secara profesional.





















SUMBER

Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI
Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia. 1984.
Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II.























                                                                                                                              














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar